Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 23: Reseptor Sensoris Kulit

Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 23: Reseptor Sensoris Kulit
May 28, 2026 No Comments Olimpiade Biologi Reza Franata

Halo sobat biologi pejuang OSN! Selamat datang kembali di akhizaf.com. Pada artikel kali ini, kita akan membahas Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 23: Reseptor Sensoris Kulit (Somatosensorik). Pernahkah kalian membaca huruf Braille atau meraba uang koin dengan mata tertutup? Kemampuan mendeteksi tekstur halus tersebut adalah berkat kerja sama reseptor-reseptor unik di bawah kulit kita, seperti sel Merkel, korpuskula Meissner, Pacini, dan ujung saraf Ruffini. Soal ini menantang kita untuk membaca grafik potensial aksi (spike train) dan membedakan reseptor mana yang beradaptasi cepat vs lambat, serta mana yang memiliki resolusi spasial tinggi bak kamera HD. Yuk, siapkan kepekaan indra peraba kalian dan mari kita bedah eksperimen neurosains ini bersama-sama!

Naskah Soal

23. Terdapat berbagai jenis reseptor sensoris pada kulit, seperti yang terlihat pada gambar di bawah. Salah satu peran reseptor sensoris tersebut adalah untuk mendeteksi tekstur suatu permukaan. Pada bagian bawah gambar tersebut, terdapat grafik yang menggambarkan perubahan frekuensi potensial aksi (neural spike) akibat stimulasi pada empat jenis reseptor sensoris yang terlibat dalam deteksi tekstur.

Anatomi reseptor kulit dan grafik neural spike

Dalam suatu percobaan, monyet rhesus diberikan papan yang berisi huruf timbul ABCD. Monyet tersebut diminta untuk menyentuh setiap huruf dengan durasi yang sama. Lalu, frekuensi potensial aksi yang terbentuk (akibat menyentuh masing-masing huruf) di neuron yang terhubung ke setiap reseptor sensoris diukur dan diterjemahkan menjadi somatosensory evoked potential (SEP). Berikut merupakan SEP yang terbentuk dari frekuensi potensial yang terukur dari dua jenis reseptor sensoris (sel Merkel dan ujung saraf Ruffini).

Hasil SEP huruf ABCD dari dua reseptor berbeda

Tentukan apakah pernyataan berikut benar (B) atau salah (S)!

  1. Korpuskula Meissner dan korpuskula Pacini hanya merespons perubahan intensitas stimulus.
  2. Sel Merkel dapat mendeteksi tekstur yang lebih halus daripada korpuskula Pacini.
  3. Korpuskula Meissner kurang akurat dibandingkan dengan ujung saraf Ruffini dalam mendeteksi posisi stimulus.
  4. SEP kiri berasal dari aktivitas ujung saraf Ruffini sementara SEP kanan merupakan terjemahan aktivitas sel Merkel.

Analisis Konsep: Karakteristik Reseptor Kulit

Ada dua parameter utama untuk membedakan reseptor kulit:

  • Kecepatan Adaptasi (Lihat Grafik Bawah):
    Rapidly Adapting (RA): Meissner & Pacini. Mereka HANYA menembakkan potensial aksi saat stimulus mulai ditekan atau mulai dilepas (saat ada “perubahan”). Saat tekanan ditahan stabil (garis lurus), mereka diam.
    Slowly Adapting (SA): Merkel & Ruffini. Mereka terus menembakkan sinyal selama kulit masih ditekan.
  • Lokasi Kedalaman (Lihat Gambar Atas):
    Superfisial (Dangkal): Merkel & Meissner. Karena letaknya dekat permukaan, receptive field (area tangkapan) mereka kecil, sehingga resolusi spasialnya sangat “HD” (akurat mendeteksi letak & tekstur halus).
    Profunda (Dalam): Pacini & Ruffini. Receptive field mereka besar, resolusinya “buram” (kurang akurat untuk mendeteksi posisi pasti).

Pembahasan Rinci Per Opsi

A. Korpuskula Meissner dan korpuskula Pacini hanya merespons perubahan intensitas stimulus. BENAR (B)

Penjelasan: Perhatikan grafik neural spike train (garis vertikal hitam) di bawah gambar. Meissner dan Pacini memiliki sinyal hanya pada bagian miring dari kurva stimulus (saat tekanan diberikan dan saat tekanan dilepas). Ketika kurva stimulus datar (tekanan ditahan stabil/tidak ada perubahan), mereka berhenti mengirim sinyal (beradaptasi cepat). Ini membuktikan bahwa mereka hanya peka terhadap perubahan/dinamika intensitas stimulus, bukan tekanan yang konstan.

B. Sel Merkel dapat mendeteksi tekstur yang lebih halus daripada korpuskula Pacini. BENAR (B)

Penjelasan: Sesuai dengan analisis konsep, letak Sel Merkel sangat dangkal (tepat di batas epidermis dan dermis), sehingga memiliki receptive field yang kecil dan sangat sensitif terhadap bentuk dan tekstur halus (seperti membaca braille). Sebaliknya, Korpuskula Pacini terletak sangat dalam, memiliki receptive field yang luas, dan lebih berfungsi untuk mendeteksi getaran (vibrasi) frekuensi tinggi, bukan tekstur halus.

C. Korpuskula Meissner kurang akurat dibandingkan dengan ujung saraf Ruffini dalam mendeteksi posisi stimulus. SALAH (S)

Penjelasan: Korpuskula Meissner terletak di lapisan superfisial (dermal papillae), sehingga bidang tangkapnya (receptive field) kecil. Bidang tangkap yang kecil menghasilkan akurasi posisi spasial yang tinggi. Ujung saraf Ruffini terletak di dermis bagian dalam, sehingga bidang tangkapnya besar dan akurasi lokasinya rendah. Jadi, Meissner justru lebih akurat, BUKAN kurang akurat.

D. SEP kiri berasal dari aktivitas ujung saraf Ruffini sementara SEP kanan merupakan terjemahan aktivitas sel Merkel. SALAH (S)

Penjelasan: Mari kita amati gambar SEP (Somatosensory Evoked Potential).
SEP Kiri: Menunjukkan huruf ABCD dengan resolusi yang sangat jelas dan tajam bak resolusi HD. Ini berarti sinyal dikirim oleh reseptor superfisial dengan receptive field sempit. Oleh karena itu, SEP kiri pasti berasal dari Sel Merkel.
SEP Kanan: Menunjukkan huruf ABCD yang buram dan melebar, khas dari reseptor dalam dengan receptive field luas. Ini pasti berasal dari Ujung Saraf Ruffini.
Pernyataan D menyilangkannya dengan posisi yang terbalik.

KUNCI JAWABAN AKHIR: B – B – S – S
Tags
About The Author
Reza Franata Semangat!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *