Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 44: Dekomposisi Serasah

Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 44: Dekomposisi Serasah
May 31, 2026 No Comments Olimpiade Biologi Reza Franata

Halo sobat biologi pejuang medali OSN! Selamat datang kembali di akhizaf.com. Pada kesempatan kali ini, kita akan membedah Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 44: Ekologi Dekomposisi Serasah. Tahukah kalian bahwa suhu lingkungan sangat menentukan seberapa cepat dedaunan mati membusuk di lantai hutan? Melalui grafik data hasil riset Trofymow et al., kita diajak menganalisis hubungan antara Suhu Tahunan Rata-rata (Mean Annual Temperature) dengan laju hilangnya massa serasah. Kita akan belajar cara membaca tren korelasi positif pada grafik, menghitung rasio laju dekomposisi, hingga memprediksi apa dampak efek rumah kaca terhadap ekosistem-ekosistem kutub dan tundra. Yuk, siapkan kejelian membaca data grafis kalian, mari kita pecahkan logikanya bersama-sama!

Naskah Soal

44. Trofymow et al. (1999) meneliti tentang laju dekomposisi serasah (sisa dedaunan dan ranting) pada beberapa ekosistem berbeda di sepanjang garis bujur di negara X. Setelah dibiarkan selama tiga tahun, data diambil dan massa serasah yang terdekomposisi tersaji pada grafik berikut.

Grafik Laju Dekomposisi Serasah vs Suhu Tahunan

Tentukan apakah pernyataan berikut benar (B) atau salah (S)!

  1. Negara X memiliki wilayah yang beriklim tropis hingga iklim dingin.
  2. Laju dekomposisi pada situs terhangat dapat mencapai 4 kali lipat dibandingkan situs terdingin.
  3. Potensi produktivitas primer bersih hutan boreal bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan padang rumput.
  4. Efek rumah kaca kemungkinan besar akan meningkatkan laju dekomposisi ekosistem di atas.

Analisis Konsep: Membaca Grafik Sebaran Data (Scatter Plot)

Mari kita pahami sumbu pada grafik dan apa yang direpresentasikannya:

  • Sumbu X (Mean annual temperature): Menunjukkan Suhu Rata-rata Tahunan. Terlihat suhunya sangat rendah, berkisar dari -10°C hingga hanya sekitar +10°C.
  • Sumbu Y (Percent of mass lost): Menunjukkan Persentase massa serasah yang hilang (terdekomposisi/membusuk) selama tiga tahun. Rentangnya dari 0% hingga nyaris 60%.
  • Garis Merah: Menunjukkan Korelasi Positif. Artinya, semakin tinggi (hangat) suhunya, maka semakin tinggi pula persentase serasah yang terdekomposisi. Suhu hangat mempercepat kerja bakteri dan fungi pembusuk.

Pembahasan Rinci Per Opsi

A. Negara X memiliki wilayah yang beriklim tropis hingga iklim dingin. SALAH (S)

Penjelasan: Perhatikan angka pada Sumbu X. Suhu rata-rata tahunan pada grafik hanya berkisar antara -10°C hingga puncaknya sekitar +10°C (Situs Gunung/Pegunungan). Wilayah beriklim tropis memiliki suhu rata-rata tahunan yang tinggi (umumnya stabil di atas 18°C hingga 28°C). Karena sama sekali tidak ada data suhu yang mewakili kisaran tropis, negara X (kemungkinan besar Kanada) hanya memiliki iklim subtropis/sedang hingga dingin/arktik.

B. Laju dekomposisi pada situs terhangat dapat mencapai 4 kali lipat dibandingkan situs terdingin. BENAR (B)

Penjelasan: Mari kita bandingkan titik data paling ekstrem:
Situs Terdingin: Titik hijau muda paling kiri (suhu sekitar -10°C). Persentase massa hilang (Sumbu Y) berada di kisaran ±14% hingga 15%.
Situs Terhangat: Titik biru paling kanan (suhu hampir +10°C). Persentase massa hilang (Sumbu Y) berada di kisaran ±58% hingga 60%.
Jika kita membagi angka terhangat dengan terdingin: 60% / 15% = 4. Pernyataan bahwa lajunya bisa mencapai 4 kali lipat adalah benar dan terbukti oleh data grafik.

C. Potensi produktivitas primer bersih hutan boreal bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan padang rumput. SALAH (S)

Penjelasan: Ini adalah jebakan klasik soal analisis data! Grafik di atas HANYA menyajikan data mengenai Laju Dekomposisi (persentase massa yang membusuk). Grafik ini sama sekali TIDAK MENYEDIAKAN data tentang Produktivitas Primer Bersih / Net Primary Productivity (NPP) atau total biomassa yang diproduksi melalui fotosintesis. Kita tidak boleh menarik kesimpulan mengenai NPP hanya dari persentase dekomposisi. Data tidak cukup untuk menyimpulkan hal tersebut.

D. Efek rumah kaca kemungkinan besar akan meningkatkan laju dekomposisi ekosistem di atas. BENAR (B)

Penjelasan: Efek rumah kaca memicu terjadinya pemanasan global, yang secara otomatis akan meningkatkan Suhu Rata-rata Tahunan (Sumbu X bergeser ke kanan). Berdasarkan garis korelasi merah pada grafik, terdapat hubungan linear yang positif: peningkatan suhu secara langsung berkorelasi dengan peningkatan persentase massa yang terdekomposisi. Oleh karena itu, jika bumi menghangat karena efek rumah kaca, aktivitas mikroba dekomposer akan meningkat dan laju dekomposisi pasti akan naik.

KUNCI JAWABAN AKHIR: S – B – S – B
Tags
About The Author
Reza Franata Semangat!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *