Reza Franata
Guru Biologi
Halo sobat biologi pejuang medali OSN! Selamat datang kembali di akhizaf.com. Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 31: Genetika dan Kloning Domba. Pernahkah kalian mendengar kisah Domba Dolly, mamalia pertama yang berhasil dikloning dari sel somatik (sel tubuh)? Soal ini mensimulasikan persis eksperimen Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT) tersebut. Kita ditantang untuk merunut pewarisan sifat dari tiga ekor domba yang berbeda: domba donor inti, domba donor ovum kosong, dan domba ibu pengganti (surrogate). Di sini, kita akan membedah sifat mana yang dibawa oleh DNA inti (kromosom) dan sifat mana yang dibawa oleh DNA mitokondria (sitoplasma ovum). Yuk, siapkan ketelitian analisis genetika kalian, mari kita bedah satu per satu!
31. Sifat warna rambut pada domba diketahui diatur oleh sebuah gen pada kromosom nomor 2, sementara fenotipe ekor diatur oleh gen-gen di mitokondria. Gen penentu warna rambut bersifat intermediet, alel A1 menghasilkan warna putih, sementara alel A2 menghasilkan rambut hitam. Domba bergenotipe heterozigot memiliki rambut abu-abu. Fenotipe ekor dibagi menjadi 3, yaitu ekor lurus, bengkok, dan tanpa ekor. Bembi memiliki sebuah peternakan domba dan ia melakukan kloning pada domba tersebut dengan tahapan sebagai berikut.
I. Isolasi nukleus dari sel somatik domba jantan berambut abu-abu dan berekor bengkok.
II. Menghilangkan nukleus sel ovum yang berasal dari domba betina berambut putih dan berekor lurus.
III. Menginjeksi nukleus dari tahapan I ke ovum yang sudah tidak berinti. Sel hasil injeksi ini ternyata berhasil membelah diri dan menjadi embrio.
IV. Implantasi embrio dari tahap III ke rahim domba betina berambut hitam tanpa ekor.
V. Implantasi berhasil dan domba hasil kloning dilahirkan dengan normal.
Tentukan apakah pernyataan berikut benar (B) atau salah (S)!
Mari kita petakan peran ketiga domba yang terlibat dalam kloning ini beserta sumbangsih genetiknya:
Kesimpulan Genetik Domba Kloning: Berjenis kelamin JANTAN, warna rambut ABU-ABU (A1A2), dan berekor LURUS (mitokondria).
Penjelasan: Domba betina donor ovum diketahui memiliki rambut berwarna putih. Karena sifat gen ini adalah intermediet, domba putih pasti bergenotipe homozigot A1A1. Untuk bisa bergenotipe A1A1, ia harus mendapatkan satu alel A1 dari ibunya dan satu alel A1 dari ayahnya (induk jantan). Jika induk jantannya berambut hitam (bergenotipe A2A2), sang ayah hanya bisa memberikan alel A2. Jika ia mendapat A2 dari ayahnya, maka si betina minimal akan berambut abu-abu (A1A2), bukan putih. Jadi, mustahil ia memiliki induk jantan berambut hitam.
Penjelasan: Sesuai analisis awal, jenis kelamin ditentukan oleh kromosom seks yang berada di dalam nukleus sel. Karena nukleus diambil dari domba donor I yang berjenis kelamin jantan (memiliki kromosom XY), maka domba hasil kloning secara genetik mutlak berjenis kelamin jantan.
Penjelasan: Sifat warna rambut diatur oleh gen pada kromosom nomor 2, yang berada di dalam nukleus. Oleh karena itu, warna rambut domba hasil kloning akan persis mengikuti warna rambut domba donor nukleus (Domba I), yaitu berwarna abu-abu (A1A2), bukan putih.
Penjelasan: Soal dengan jelas menyatakan bahwa fenotipe ekor diatur oleh gen-gen di mitokondria. Mitokondria berada di dalam sitoplasma, sehingga mitokondria domba kloning murni berasal dari sitoplasma sel ovum (Domba II). Karena Domba II berekor lurus, maka domba hasil kloning akan berekor lurus. Fenotipe “tanpa ekor” dimiliki oleh ibu pengganti (Domba III), yang mana tidak memberikan sumbangsih genetik sama sekali.