Reza Franata
Guru Biologi
Halo sobat biologi pejuang medali OSN! Selamat datang kembali di akhizaf.com. Pada kesempatan kali ini, kita akan membedah Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 29: Elektrofisiologi Otot Cacing C. elegans. Tahukah kalian bahwa cacing mikroskopis Caenorhabditis elegans memiliki otot yang bekerja dengan cara yang sangat berbeda dari otot manusia? Mereka tidak memiliki saluran natrium berpintu tegangan (voltage-gated Na+ channel)! Melalui soal analisis grafik elektrofisiologi ini, kita akan membuktikan peran mutlak ion kalsium ($Ca^{2+}$) dalam menciptakan potensial aksi all-or-none, melihat efek ion natrium terhadap potensial istirahat membran, hingga membandingkan struktur sarkomer dengan otot jantung. Yuk, siapkan logika neurobiologi kalian dan mari kita taklukkan soal yang menantang ini!
29. Pada Vertebrata, kontraksi otot disebabkan oleh terbentuknya potensial aksi pada sel otot akibat stimulasi dari neuron motor. Tetapi, cacing Caenorhabditis elegans tidak memiliki voltage-gated Na+ channel. Fakta ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana proses yang memicu terjadinya kontraksi otot pada C. elegans. Dalam suatu eksperimen, sel otot dinding tubuh C. elegans diberi stimulasi arus listrik untuk mengamati perubahan potensial membran sel tersebut. Berikut merupakan data yang diperoleh dari eksperimen tersebut.
Tentukan apakah pernyataan berikut benar (B) atau salah (S)!
Mari kita bedah grafik elektrofisiologi pada Gambar B:
Penjelasan: Perhatikan Gambar A. Terdapat garis panah yang secara eksplisit menunjuk pada struktur bernama “Sarcomeres” (Sarkomer). Keberadaan sarkomer adalah ciri mutlak dari otot lurik (seperti otot rangka dan otot jantung pada manusia). Sebaliknya, otot pada dinding pembuluh darah arteri (termasuk pada ikan) adalah otot polos, yang tidak memiliki sarkomer. Jadi, otot cacing ini terstruktur lurik dan lebih mirip dengan otot jantung.
Penjelasan: Terdapat jebakan kata yang sangat halus di sini. Potensial aksi memang dihasilkan oleh influks Ca2+, NAMUN salurannya adalah Voltage-gated (berpintu tegangan), BUKAN Ligand-gated (berpintu ligan kimia). Buktinya sangat jelas di soal: potensial aksi dipicu murni oleh “stimulasi arus listrik” (perubahan tegangan/voltase), bukan karena ditetesi molekul ligan (seperti neurotransmiter). Sifat all-or-none (puncak yang selalu seragam) juga adalah karakteristik dari voltage-gated channels.
Penjelasan: Mari kita bandingkan nilai potensial istirahat membrannya.
– Tanpa Na+ (Kolom Kanan): Potensial istirahat adalah -60 mV.
– Dengan Na+ (Kolom Kiri): Potensial istirahat menjadi -30 mV.
Angka -30 mV lebih positif (kurang negatif) dibandingkan -60 mV. Jadi, kehadiran Na+ justru membuat sitoplasma berkurang kenegatifannya (menjadi lebih positif/depolarisasi), BUKAN semakin negatif.
Penjelasan: Air sadah (hard water) secara alami kaya akan kandungan ion Kalsium (Ca2+). Pada mamalia/manusia, kadar kalsium luar sel yang tinggi justru menstabilkan membran. Namun, pada C. elegans yang tidak memiliki saluran Na+, potensial aksi dan kontraksi ototnya bergantung sepenuhnya secara mutlak pada influks ion Ca2+ melalui voltage-gated Ca2+ channel. Kelimpahan ion Ca2+ dari air sadah akan memperbesar gradien konsentrasi ekstraseluler, sehingga saat sel otot terstimulasi, ion Ca2+ akan membanjiri sitoplasma secara masif. Akumulasi kalsium intraseluler yang berlebihan ini membuat aparat kontraktil (sarkomer) terus bekerja memicu kontraksi statis tanpa sempat mengalami relaksasi. Kondisi otot yang kaku dan berkontraksi terus-menerus inilah yang didefinisikan sebagai tetanus.