Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 12: Alelopati & Fitohormon

Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 12: Alelopati & Fitohormon
May 16, 2026 No Comments Olimpiade Biologi Reza Franata

Halo sobat biologi pejuang OSN! Selamat datang kembali di akhizaf.com. Pada artikel kali ini, kita akan membahas Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 12: Ekologi Tumbuhan dan Alelopati. Interaksi antarspesies di alam tidak selalu tentang simbiosis mutualisme; terkadang mereka saling “berperang” menggunakan senjata kimia, seperti fenomena alelopati pada spesies invasif Erigeron annuus. Soal ini sangat cemerlang karena menguji kemampuan kita untuk menghubungkan efek ekologis alelopati dengan mekanisme fisiologis hormon tumbuhan seperti Asam Absisat (ABA), Auksin, dan Etilen. Yuk, siapkan catatan kalian dan mari kita bedah strategi biokimia tumbuhan ini bersama-sama!

Naskah Soal

12. Penelitian mengenai efek alelopati dari spesies invasif Erigeron annuus menyatakan bahwa tumbuhan yang berasal dari lokasi terganggu (disturbed) menyebabkan inhibisi yang lebih tinggi terhadap germinasi spesies Sinapis alba. Efek yang sama juga teramati pada inhibisi pertumbuhan batang (shoot).

Tentukan apakah pernyataan berikut Benar (B) atau Salah (S)!

  1. Senyawa penyebab alelopati memiliki efek yang sama dengan asam absisat.
  2. Berdasarkan kedua efek di atas, kemungkinan alelopati tersebut menghambat fungsi fitohormon yang terlibat pada fototropisme positif tunas pucuk.
  3. Senyawa yang menyebabkan alelopati pada E. annuus kemungkinan besar didistribusikan dengan cara yang sama dengan etilen.
  4. E. annuus dan S. alba cenderung coexist ketika terdapat gangguan dibandingkan ketika tidak ada gangguan.

Analisis Konsep: Alelopati & Fitohormon

Alelopati adalah fenomena di mana suatu organisme memproduksi senyawa biokimia (alelokimia) yang memengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan reproduksi organisme lain. Mari kita hubungkan efek alelopati pada soal ini dengan hormon tumbuhan:

  • Inhibisi Germinasi: Menghambat biji untuk berkecambah (mempertahankan dormansi). Hormon yang memiliki efek ini adalah Asam Absisat (ABA), sementara antagonisnya (yang memacu perkecambahan) adalah Giberelin (GA).
  • Inhibisi Pertumbuhan Batang: Menghambat pemanjangan tunas. Hormon yang dipengaruhi bisa berupa penghambatan Auksin atau kerja ABA saat terjadi cekaman (stres).

Pembahasan Rinci Per Opsi

A. Senyawa penyebab alelopati memiliki efek yang sama dengan asam absisat. BENAR (B)

Penjelasan: Asam Absisat (ABA) sering disebut sebagai “hormon stres”. Dua fungsi utama ABA dalam mengontrol pertumbuhan adalah menghambat perkecambahan biji (menjaga dormansi) dan menghambat pemanjangan sel/pertumbuhan batang saat kondisi lingkungan memburuk. Senyawa alelopati pada soal ini dilaporkan menekan perkecambahan (germinasi) dan menghambat pertumbuhan batang. Oleh karena itu, efeknya sangat identik/meniru efek dari ABA.

B. Berdasarkan kedua efek di atas, kemungkinan alelopati tersebut menghambat fungsi fitohormon yang terlibat pada fototropisme positif tunas pucuk. SALAH (S)

Penjelasan: Hormon yang bertanggung jawab atas fototropisme positif (tumbuh membengkok ke arah cahaya) adalah Auksin. Menghambat Auksin memang dapat menjelaskan efek “inhibisi pertumbuhan batang”. Namun, pernyataan di atas mengatakan “berdasarkan kedua efek” (yaitu germinasi dan pertumbuhan). Auksin tidak berperan utama dalam proses germinasi (perkecambahan dipacu oleh Giberelin). Oleh karena itu, menyimpulkan hal ini berdasarkan “kedua efek” adalah lompatan logika yang kurang tepat secara fisiologi tumbuhan.

C. Senyawa yang menyebabkan alelopati pada E. annuus kemungkinan besar didistribusikan dengan cara yang sama dengan etilen. SALAH (S)

Penjelasan: Etilen adalah satu-satunya fitohormon yang berwujud gas (volatil) dan menyebar melalui difusi di udara. Sebaliknya, sebagian besar senyawa alelokimia yang menghambat germinasi biji tanaman pesaing didistribusikan melalui eksudat akar (dikeluarkan ke tanah) atau lumeran (leachate) daun yang jatuh dan larut oleh air hujan. Senyawa ini bersifat larut air di dalam tanah, bukan disebarkan dominan dalam bentuk gas seperti etilen.

D. E. annuus dan S. alba cenderung coexist ketika terdapat gangguan dibandingkan ketika tidak ada gangguan. SALAH (S)

Penjelasan: Soal dengan jelas menyatakan bahwa E. annuus dari lokasi terganggu (disturbed) menyebabkan inhibisi (hambatan) yang LEBIH TINGGI terhadap S. alba. Jika hambatan/racunnya lebih kuat, maka S. alba akan lebih mudah mati atau tersingkir (eksklusi kompetitif). Akibatnya, probabilitas mereka untuk bisa hidup rukun berdampingan (coexist) justru akan menurun pada kondisi lingkungan yang terganggu.

KUNCI JAWABAN AKHIR: B – S – S – S
Tags
About The Author
Reza Franata Semangat!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *