Reza Franata
Guru Biologi
Halo sobat biologi pejuang medali OSN! Selamat datang kembali di akhizaf.com. Pada kesempatan kali ini, kita akan membedah Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 43: Ekologi dan Keanekaragaman Diptera. Dalam studi ekologi, menghitung jumlah spesies saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi suatu komunitas; kita juga harus melihat seberapa merata jumlah individu antarspesies tersebut. Melalui data observasi lalat (Diptera) pada kayu mati, kita diajak untuk menghitung kekayaan genus, membandingkan indeks kemerataan (evenness), melacak ada tidaknya gejala eksklusi kompetitif di antara spesies yang berkerabat dekat, hingga mengidentifikasi peran trofik mereka di ekosistem. Yuk, siapkan logika ekologi kuantitatif kalian, mari kita bedah tabel datanya bersama-sama!
43. Data di bawah merupakan data keanekaragaman Diptera pada kayu-kayu mati di Lithuania. Diketahui spesies yang teramati di setiap kayu selalu sama dari waktu ke waktu.
Tentukan apakah pernyataan berikut Benar (B) atau Salah (S)!
Mari kita ekstrak dan hitung data dari tabel di atas ke dalam besaran ekologi:
| Metrik Ekologi | Kayu Quercus robur | Kayu Tilia cordata |
|---|---|---|
| Jumlah Individu (N) | 1 + 1 + 28 + 12 = 42 individu | 0 + 1 + 11 + 11 + 7 = 30 individu |
| Kekayaan Spesies (Species Richness) | 4 Spesies (S. cinctus, B. marci, B. nigriventris, B. reticulatus) | 4 Spesies (B. marci, B. nigriventris, B. reticulatus, D. glabrata) |
| Kekayaan Genus (Genus Richness) | 2 Genus (Sylvicola dan Bibio) | 2 Genus (Bibio dan Diogma) |
| Distribusi Kelimpahan | 28, 12, 1, 1 (Sangat timpang / didominasi 1 spesies) | 11, 11, 7, 1 (Tersebar lebih merata) |
Penjelasan: Dalam ekologi, istilah “Kekayaan” (Richness) merujuk pada jumlah (angka) takson yang ada, bukan jenis komposisinya. Berdasarkan tabel analisis kita, kayu Quercus robur memiliki 2 genus (Sylvicola dan Bibio). Kayu Tilia cordata juga memiliki 2 genus (Bibio dan Diogma). Karena jumlah genusnya sama-sama 2, maka kekayaan genus pada kedua kayu tersebut adalah sama, bukan berbeda.
Penjelasan: Kemerataan (Evenness) mengukur seberapa seimbang jumlah individu antar-spesies dalam suatu komunitas.
Pada kayu Quercus robur, kelimpahan sangat didominasi oleh satu spesies yaitu B. nigriventris (28 dari 42 individu = ~66%), sedangkan spesies lain hanya berjumlah 1. Ini berarti kemerataannya rendah.
Sebaliknya, pada kayu Tilia cordata, jumlah individu per spesies tersebar jauh lebih seimbang (11, 11, 7, dan 1). Oleh karena itu, kemerataan pada Quercus robur memang lebih rendah daripada Tilia cordata.
Penjelasan: Prinsip Eksklusi Kompetitif (Hukum Gause) menyatakan bahwa dua spesies yang bersaing memperebutkan relung (niche) yang persis sama tidak akan bisa hidup berdampingan secara stabil; salah satu akan tersingkir/punah lokal.
Pada data soal, disebutkan bahwa “spesies yang teramati di setiap kayu selalu sama dari waktu ke waktu“. Keberadaan 3 spesies Bibio yang berkerabat dekat dan mampu hidup menetap secara stabil dan berdampingan dari waktu ke waktu (koeksistensi) membuktikan bahwa mereka kemungkinan telah melakukan pembagian relung (resource partitioning). Oleh karena itu, efek eksklusi kompetitif memang tidak teramati / tidak terjadi pada komunitas ini.
Penjelasan: Kunci utamanya ada pada kalimat habitat: “kayu-kayu mati”. Herbivora didefinisikan sebagai hewan yang memakan jaringan tumbuhan yang masih hidup (seperti daun segar atau tunas). Organisme yang memakan sisa-sisa tumbuhan atau materi organik yang sudah mati disebut sebagai Detritivor, Saprofit, atau Dekomposer (pada kayu spesifiknya disebut organisme saproksilik). Karena habitat mereka adalah kayu mati, peran mereka jelas bukan herbivora.