Reza Franata
Guru Biologi
Halo sobat biologi pejuang medali OSN! Selamat datang kembali di akhizaf.com. Pada kesempatan kali ini, kita akan membedah Pembahasan Soal OSN-K Biologi 2025 No 42: Etologi dan Sinyal Komunikasi Hewan. Bagaimana cara semut memberi tahu kawanannya bahwa ada makanan? Bagaimana burung memperingatkan kawanannya tanpa ketahuan oleh elang? Dalam ekologi perilaku, hewan menggunakan berbagai mode sinyal—suara (akustik), bau (kimia/feromon), hingga gerakan (visual)—untuk berkomunikasi. Setiap sinyal memiliki “biaya” dan karakteristik rambat yang berbeda-beda. Melalui soal ini, kita akan belajar mengidentifikasi sifat ketiga jenis sinyal tersebut, membedakan antara “sinyal” yang sesungguhnya dengan sekadar “isyarat/cue” lingkungan, hingga membaca pola spektrogram suara. Yuk, mari kita bedah logikanya bersama-sama!
42. Jenis sinyal yang digunakan hewan untuk berkomunikasi berkaitan erat dengan cara hidup dan lingkungan hewan tersebut. Seorang siswa yang bersemangat mempelajari perilaku hewan mendata beberapa karakteristik yang dimiliki oleh tiga jenis sinyal berbeda seperti berikut ini.
I. Bersifat sementara dan membutuhkan banyak energi untuk diciptakan, menyebar ke segala arah tetapi kualitas sinyal yang diterima dapat terpengaruh oleh penghalang fisik.
II. Long-lasting tanpa perlu banyak energi untuk mempertahankannya, menyebar secara lambat, sulit dicari sumbernya.
III. Menyampaikan informasi secara instan, dapat menjangkau jarak jauh, berpotensi untuk diintersepsi atau terhalangi secara fisik.
Tentukan apakah pernyataan berikut Benar (B) atau Salah (S)!
Mari kita identifikasi ketiga jenis sinyal tersebut berdasarkan ilmu ekologi perilaku (etologi):
Penjelasan: Sinyal III adalah sinyal visual (penglihatan). Hewan nokturnal hidup di malam hari yang minim cahaya. Mengandalkan komunikasi visual di kegelapan sangat tidak efektif (kecuali hewan tersebut memproduksi bioluminesensi seperti kunang-kunang, yang mana merupakan kasus langka). Untuk hewan nokturnal, sinyal akustik (suara) atau kimiawi (feromon) adalah opsi yang jauh lebih ideal.
Penjelasan: Sinyal II merupakan karakteristik dari sinyal kimiawi (feromon). Karakteristiknya yang menyebar lambat dan bertahan lama (long-lasting) membuat sinyal ini tidak cocok untuk memberikan peringatan bahaya predator yang bersifat darurat/akut. Ketika predator menyerang, hewan membutuhkan sinyal yang instan (seperti suara atau visual) agar kawanannya bisa langsung meloloskan diri. Menggunakan sinyal kimia yang lambat menyebar justru tidak akan sempat menyelamatkan kawanan, dan sifatnya yang bertahan lama di lingkungan akan menyebabkan kepanikan berkepanjangan yang merugikan meskipun predatornya sudah pergi jauh.
Penjelasan: Ini adalah jebakan definisi yang sangat sering keluar! Dalam etologi, agar suatu aksi dapat disebut sebagai “Sinyal” (Signal), aksi tersebut harus berevolusi secara spesifik dengan tujuan untuk memengaruhi perilaku penerimanya (komunikasi dua arah yang disengaja). Suara ranting patah atau langkah kaki yang tak sengaja ditimbulkan rusa bukanlah sebuah “sinyal”, melainkan “Isyarat” (Cue) dari lingkungan. Rusa tentu tidak berniat mengomunikasikan keberadaannya kepada predator.
Penjelasan: Berdasarkan kunci jawaban resmi, gambar spektrogram suara pada soal menampilkan pola akustik yang rumit, kaya akan harmoni, memiliki rentang frekuensi yang lebar (broadband), serta penuh dengan modulasi nada yang dinamis. Ciri visual yang kompleks dan bervariasi seperti ini merupakan karakteristik utama dari nyanyian kawin (mating call) yang dirancang untuk menarik perhatian lawan jenis dan menunjukkan kualitas genetik individu, BUKAN merupakan sinyal bahaya (alarm call) yang umumnya berpola sangat sederhana dan pendek.