Reza Franata
Guru Biologi
Jika Asesmen Formatif adalah tentang “memperbaiki proses”, maka Asesmen Sumatif adalah saatnya kita berkata: “Inilah hasil pencapaian belajar siswa.”
Bapak/Ibu Guru sering merasa dilema saat memberikan nilai akhir? Apakah nilai ini benar-benar mencerminkan kemampuan siswa? Mari kita bedah tuntas tentang penilaian “High Stakes” ini.
Asesmen Sumatif adalah penilaian yang dilakukan pada akhir periode pembelajaran (akhir lingkup materi, akhir semester, atau akhir fase). Tujuannya adalah untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran sebagai dasar penentuan kenaikan kelas atau kelulusan.
Mari kita lanjutkan analogi Koki Memasak dari artikel sebelumnya:
Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen ini biasanya dilakukan pada dua waktu utama:
Dilakukan setelah satu bab atau satu topik materi selesai. Sering kita kenal sebagai Ulangan Harian (jika nilainya murni untuk rapor).
Dilakukan di akhir semester. Sering kita kenal sebagai PAS (Penilaian Akhir Semester) atau PAT (Penilaian Akhir Tahun).
Seringkali kita terjebak bahwa ujian sumatif harus berupa soal Pilihan Ganda 50 nomor. Padahal, bentuknya bisa sangat beragam agar lebih adil bagi berbagai tipe kecerdasan siswa:
| Aspek | Formatif | Sumatif |
|---|---|---|
| Waktu | Saat proses belajar | Setelah materi selesai |
| Tujuan | Memperbaiki (Feedback) | Menghakimi/Menilai (Judgment) |
| Pengaruh Rapor | Tidak/Sedikit | Sangat Besar |
Ujian akhir sering membuat siswa stres. Berikut tips agar asesmen sumatif tetap humanis:
Asesmen sumatif adalah “potret” akhir dari perjalanan belajar siswa. Pastikan potret tersebut diambil dengan kamera (instrumen) yang jernih agar hasilnya akurat.
Dapatkan Contoh Rubrik Penilaian Sumatif di Sini